Posted on by

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN DAN TEMU ALUMNI PRODI PTK SPS UPI

Capture

Perkembangan pendidikan vokasi terus mengalami kemajuan, baik dari segi konsep dan paradigma, pengembangan kurikulum, program, proses pendidikan, infrastruktur, diversifikasi keahlian yang ditawarkan, maupun pasar kerja yang dituju. Namun demikian, permasalahan dan tantangan terus mengemuka, sejalan dengan perubahan dan perkembangan jaman. Oleh sebab itu, pada sejumlah hal masih terdapat banyak keluhan, misalnya menyangkut kualitas dan kompetensi lulusan.

Berkaitan dengan lulusan, salah satu persoalan besar yang dihadapi umumnya oleh lembaga-lembaga pendidikan vokasi, baik pendidikan tinggi maupun pendidikan menengah seperti SMK, bukan saja menyangkut output tetapi juga outcomes pendidikan. Output pendidikan, merupakan hasil langsung dari suatu pelaksanaan internal program dan proses pendidikan dengan ukuran kuantitatif, seperti jumlah lulusan, nilai rata-rata IPK, nilai UN dan US, jumlah siswa yang lolos standar uji kompetensi, lama masa studi, jumlah siswa yang melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, lama waktu sebelum memperoleh pekerjaan, dll. Outcomes pendidikan, adalah produk dari program dan proses pendidikan yang lebih bermakna kualitatif, yaitu bagaimana lulusan itu bermanfaat dan dapat menciptakan perubahan baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat secara umum. Outcomes ini misalnya menyangkut pekerjaan, karir, penghasilan, dan kesejahteraan individu lulusan, serta kontribusinya bagi peningkatan kesejahteraan keluarga, masyarakat, dan lingkungannya.

Selama ini, orientasi dan kriteria mutu, efektifitas dan efisiensi pendidikan, serta relevansi pendidikan masih terbatas pada persoalan output. Dengan demikian, terlebih lagi terkait dengan rencana peningkatan proporsi jumlah siswa SMK yang diharapkan berkelanjutan secara konsisten, persoalan outcomes menjadi salahsatu faktor yang krusial. Persoalan itu, dihadapkan pula pada tantangan era pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Secara konseptual, MEA bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang stabil, makmur, berdaya saing tinggi, dan secara ekonomi terintegrasi dengan regulasi efektif untuk perdagangan, perindustrian dan investasi. Di dalamnya terdapat arus bebas lalu lintas barang, jasa, investasi, dan modal serta difasilitasinya kebebasan pergerakan pelaku usaha dan tenaga kerja. Pada satu sisi, terdapat kesempatan kerja yang sangat besar yang didorong berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam pada skala ASEAN. Di sisi lain, tingkat persaingan kerja semakin tinggi sehingga meningkatkan resiko ketenagakerjaan, karena tenaga kerja Indonesia harus bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara lain. Padahal, dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand, dengan fondasi industri berada pada peringkat keempat di ASEAN.

Menghadapi persoalan itu, dibutuhkan arah kebijakan dan strategi pengembangan pendidikan vokasi yang komprehensif, untuk menciptakan tenaga kerja lulusan pendidikan vokasi yang mampu menghadapi tantangan dan merebut peluang pasar kerja ASEAN. Untuk itu, seminar nasional ini diselenggarakan dalam rangka berkontribusi untuk menjawab permasalahan tersebut.

“ARAH KEBIJAKAN DAN STARTEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEJURUAN DALAM ERA MEA”

Latar belakang

Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang stabil, makmur, berdaya saing tinggi, dan secara ekonomi terintegrasi dengan regulasi efektif untuk perdagangan, perindustrian dan investasi. Di dalamnya terdapat arus bebas lalu lintas barang, jasa, investasi, dan modal serta difasilitasinya kebebasan pergerakan pelaku usaha dan tenaga kerja.

Terdapat peluang dan tantangan dengan diberlakukannya MEA 2015. Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena dapat banyak tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Dalam hal ini dapat memunculkan risiko ketenagakarejaan bagi Indonesia. Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi industri yang bagi Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN (Republika Online, 2013).

Berdasarkan fakta tersebut, sebagai institusi yang terlibat secara langsung dalam menghasilkan pelaku dan pemangku kebijakan pendidikan ketenagakerjaan, Prodi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan perlu menambah wawasan bagi mahasiswa, alumni, dan pelaku pendidikan kejuruan untuk mengetahui arah kebijakan dan stategi pengembangan pendidikan kejuruan di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan agar mampu menghasilkan tenaga kerja yang mampu bersaing dalam kerangka MEA 2015.

“PEMBICARA KUNCI”Slide7

Tujuan Kegiatan

Menambah wawasan dan pengetahuan peserta seminar menyangkut arah kebijakan dan strategi pengembangan pendidikan kejuruan di Indonesia dalam era MEA.
Meningkatkan budaya akademik dan ilmiah melalui pemaparan hasil penelitian dan pemikiran dalam pembelajaran pada pendidikan kejuruan.
Menjalin komunikasi dan menyatukan visi dalam memajukan pedidikan kejuruan di Indonesia.

Ruang Lingkup

Seminar Nasional ini ngundang kontribusi pada sub-tema berikut:

  1. Peningkatan mutu pendidikan guru kejuruan (vokasi)
  2. Pengakuan kompetensi lulusan pendidikan kejuruan (vokasi)
  3. Peningkatan peran LPTK PTK untuk menyiapkan lulusan sesuai kebutuhan pasar kerja
  4. Kemitraan pendidikan kejuruan dengan dunia usaha dan industri Inovasi
  5. Inovasi pembelajaran pada pendidikan kejuruan (vokasi)

Pelaksanaan

Hari/Tanggal : Rabu, 14 September 2016

Waktu : 08.00 WIB – selesai

Tempat : Auditorium Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Tanggal Penting

14 Juni – 24 30 Agustus 2016 Pendaftaran pemakalah dan pemasukan makalah

14 Juni – 1 September 2016 Pendaftaran peserta partisipan

14 September 2016 Pelaksanaan SN PTK

Biaya Pendaftaran

Pemakalah Rp 450.000,-
Partisipan (Umum) Rp 300.000,-
Partisipan (Mahasiswa) Rp 250.000,-
*Biaya pendaftaran ditransfer melalui rekening:

BNI a.n. Riskha Mardiana (0102389364)

Bank Mandiri a.n. Riskha Mardiana (1170002061679)

Fasilitas Peserta

  1. Perlengkapan seminar
  2. Sertifikat keikutsertaan
  3. CD Prosiding
  4. Makan siang
  5. Kudapan

Berkas Unduhan

Penyelenggara

Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Pelindung : Rektor UPI (Prof. H. Furqon, PhD)
Pengarah : Direktur SPs UPI (Prof. H. Yaya S. Kusumah, M.Sc., PhD)
Penanggung Jawab : Kaprodi PTK SPs UPI (Prof. Dr. M. S. Barliana, M.Pd., MT.)
Ketua : Dr. Hasbullah, MT.
Sekretaris : Dr. H. Mumu Komaro, MT.
Bendahara : Riskha Mardiana, ST., M.Pd.
Koordinator Seminar : Dr. Purnawan, MT.
Koordinator Temu Alumni : Dr. Tasma Sucita, MT.

Scientific Comittee

  • Prof. Dr. Sumarto, MSIE.
  • Prof. Dr. Masriam Bukit, M.Pd
  • Prof. Dr. H. As’ari Djohar, M.Pd.
  • Dr. H. Dadang Hidayat M., M.Pd.
  • Dr. Danny Meirawan, M. Pd
  • Dr. Hj. Yoyoh Jubaedah, M.Pd.
  • Dr. H. Johar Maknun, M.Si
  • Dr. Sudjani, M.Pd

Informasi
Narahubung            :  Dara Agstiana (0818-214-577)
Retna Sari (0857-2472-1534)
Situs Web               :  semnasptksps.conference.upi.edu
Alamat Surel           :  semnasptksps@upi.edu
Sekretariat              :  Kantor Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudi No. 229, Bandung 40154